NTB - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan di berbagai daerah terus menjadi perhatian masyarakat.
Di Kecamatan Sembalun, Lombok Timur, sejumlah penerima manfaat mulai menyampaikan keluhan terkait menu makanan yang dianggap kurang bervariasi.
Meski demikian, pihak pelaksana menegaskan bahwa penyusunan menu harus mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan secara nasional.
Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Lombok Timur Dapur 2 Sembalun, Lalu Hergi Rinaldi, menjelaskan bahwa menu MBG disusun berdasarkan master menu yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional (BGN).
Aturan tersebut diterapkan untuk menjaga keseragaman program, mempermudah perencanaan anggaran, serta memastikan distribusi bahan pangan berjalan lancar di seluruh Indonesia.
Menurutnya, setiap satuan pelaksana wajib menyusun rencana menu bulanan sesuai pedoman yang telah ditentukan.
Karena itu, ruang untuk melakukan perubahan menu secara bebas menjadi cukup terbatas.
Baca juga: Lombok Timur Targetkan 2.000 Rumah Terima BSPS 2026, Usulkan 19 Ribu RTLH ke Pemerintah Pusat
Keluhan Muncul Karena Menu Kurang Variatif
Beberapa siswa dan penerima manfaat menilai menu MBG yang disajikan cenderung berulang sehingga menimbulkan rasa bosan.
Keluhan paling banyak berkaitan dengan jenis lauk atau sumber protein yang disajikan dalam periode tertentu.
Selain itu, terdapat beberapa bahan pangan yang saat ini tidak masuk dalam daftar menu nasional.
Salah satunya adalah ikan laut yang untuk sementara belum dapat digunakan dalam program,kondisi tersebut membuat pilihan bahan makanan menjadi lebih terbatas dibanding sebelumnya.
Meski menerima berbagai masukan dari lapangan, pihak SPPG tetap harus mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional agar pelaksanaan program berjalan sesuai standar.
SPPG Lakukan Inovasi dalam Pengolahan Makanan
Untuk mengatasi kejenuhan siswa, SPPG Sembalun mencoba menghadirkan variasi melalui cara pengolahan makanan.
Walaupun bahan utama tetap mengikuti master menu, penyajian makanan dapat dimodifikasi agar lebih menarik dan disukai penerima manfaat.
Sebagai contoh, tempe yang biasanya disajikan dalam bentuk gorengan dapat diolah menjadi tempe orek dengan cita rasa berbeda.
Begitu pula dengan sayuran dan buah-buahan yang masih memungkinkan untuk dikreasikan tanpa mengubah kandungan gizi yang telah ditentukan.
Langkah ini dilakukan agar siswa tetap memiliki minat untuk mengonsumsi makanan yang disediakan sekaligus menjaga keberhasilan program pemenuhan gizi anak sekolah.
Fokus Utama Tetap pada Pemenuhan Gizi Anak
SPPG menegaskan bahwa tujuan utama Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya menyediakan makanan, tetapi juga memastikan kebutuhan nutrisi siswa terpenuhi secara optimal.
Karena itu, evaluasi dari sekolah, orang tua, dan penerima manfaat akan terus menjadi bahan perbaikan dalam pelaksanaan program.
Melalui penyesuaian penyajian dan inovasi pengolahan makanan, diharapkan kualitas layanan MBG semakin baik tanpa mengabaikan standar gizi yang telah ditetapkan pemerintah pusat.
Baca juga: Rakernas ADVOKAI 2026 di Mataram Perkuat Peran Advokat dan Akses Keadilan bagi Masyarakat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/NTB SATU