NTB - Kerajaan Bima terletak di wilayah Bima, Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan antara Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara membuat Bima berkembang menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Indonesia bagian timur.
Sejak masa awal berdirinya, masyarakat Bima telah menjalin hubungan dengan para pedagang dari berbagai daerah, seperti Jawa, Makassar, Maluku, Melayu, hingga bangsa asing. Kondisi ini membuat Bima berkembang tidak hanya dalam bidang ekonomi, tetapi juga dalam bidang sosial dan budaya.
Sebelum menjadi kerajaan Islam, Bima merupakan kerajaan yang bercorak Hindu dan memiliki hubungan dengan kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.
Asal Usul Kerajaan Bima
Menurut naskah kuno Kerajaan Bima yang disebut Bo Sangaji Kai, asal-usul Kerajaan Bima berkaitan dengan seorang bangsawan dari Jawa bernama Sang Bima. Ia datang ke wilayah Bima dan kemudian menikah dengan Putri Tasi Sari Naga.
Dari pernikahan tersebut lahirlah dua putra, yaitu Indra Zamrud dan Indra Komala. Keturunan keduanya kemudian menjadi garis keturunan raja-raja yang memerintah Bima selama berabad-abad.
Meskipun cerita ini bercampur dengan unsur legenda, masyarakat Bima meyakini kisah tersebut sebagai bagian dari sejarah awal berdirinya kerajaan mereka.
Sebelum terbentuknya kerajaan, masyarakat Bima hidup dalam kelompok-kelompok wilayah yang dipimpin oleh seorang kepala adat yang disebut Ncuhi. Terdapat lima Ncuhi yang menguasai wilayah berbeda, yaitu:
- Ncuhi Dara di wilayah tengah.
- Ncuhi Parewa di wilayah selatan.
- Ncuhi Padolo di wilayah barat.
- Ncuhi Banggapupa di wilayah timur.
- Ncuhi Dorowuni di wilayah utara.
Kelima Ncuhi tersebut membentuk Federasi Ncuhi yang berfungsi sebagai sistem pemerintahan awal masyarakat Bima. Pada masa ini masyarakat mulai mengenal pertanian, peternakan, sistem kemasyarakatan, dan aturan adat yang mengatur kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Penuh Haru, 393 Jamaah Haji Kloter 1 Lombok Timur Tiba di Tanah Air
Berdirinya Kerajaan Bima
Setelah masa pemerintahan Ncuhi, Indra Zamrud diangkat menjadi Raja Bima pertama. Pengangkatan ini menandai perubahan sistem pemerintahan dari federasi adat menjadi kerajaan.
Sejak saat itu, Kerajaan Bima berkembang menjadi salah satu kerajaan terbesar di Pulau Sumbawa. Kerajaan ini memiliki wilayah kekuasaan yang luas dan hubungan perdagangan dengan berbagai kerajaan lain di Nusantara.
Para raja Bima berhasil membangun sistem pemerintahan yang lebih teratur serta memperkuat hubungan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, Sulawesi, dan Maluku.
Kemajuan Kerajaan Bima tidak lepas dari aktivitas perdagangan. Pelabuhan Bima menjadi tempat singgah kapal-kapal dagang yang berlayar dari barat ke timur Nusantara. Beberapa hasil bumi yang diperdagangkan antara lain beras, kayu, madu, kuda Sumbawa, hasil hutan, dan rempah-rempah.
Kuda dari Bima dan Sumbawa bahkan terkenal hingga ke berbagai daerah di Indonesia karena kualitasnya yang baik. Ramainya aktivitas perdagangan membuat masyarakat Bima menjadi lebih terbuka terhadap pengaruh budaya dan agama dari luar.
Baca juga: Kunjungan Wisman ke NTB Naik 35 Persen pada April 2026, Pariwisata Makin Bergairah
Masuknya Islam ke Bima
Islam mulai dikenal di Bima sekitar abad ke-16 melalui para pedagang dan ulama yang datang dari Jawa, Melayu, dan Sulawesi. Perkembangan Islam semakin pesat ketika Kesultanan Gowa-Tallo dari Makassar memperluas pengaruhnya ke wilayah Nusa Tenggara pada awal abad ke-17.
Pada tahun 1620-an, Raja Bima yang bernama La Ka'i memeluk agama Islam dan kemudian bergelar Sultan Abdul Kahir. Ia menjadi sultan pertama dalam sejarah Bima. Peristiwa ini menandai perubahan Kerajaan Bima menjadi Kesultanan Bima yang bercorak Islam.
Masa Kesultanan Bima
Setelah Islam menjadi agama resmi kerajaan, sistem pemerintahan dan kehidupan masyarakat mengalami banyak perubahan. Hukum Islam mulai diterapkan berdampingan dengan hukum adat yang sudah ada sebelumnya. Selain itu, pembangunan masjid, pendidikan agama, dan kegiatan dakwah semakin berkembang.
Kesultanan Bima juga menjalin hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya, seperti Kesultanan Gowa, Kesultanan Ternate, dan Kesultanan Mataram. Pada masa ini, Bima berkembang menjadi salah satu pusat penyebaran Islam di wilayah Nusa Tenggara dan Indonesia bagian timur.
Beberapa peninggalan sejarah Kerajaan dan Kesultanan Bima yang masih dapat ditemukan hingga saat ini antara lain Istana Asi Mbojo (Istana Kesultanan Bima), Masjid Kesultanan Bima, naskah kuno Bo Sangaji Kai, makam para sultan Bima, dan berbagai benda pusaka kerajaan.
Kerajaan Bima merupakan salah satu kerajaan penting di wilayah Nusa Tenggara Barat. Berawal dari sistem pemerintahan adat yang dipimpin para Ncuhi, Bima berkembang menjadi kerajaan besar yang aktif dalam perdagangan. Pada abad ke-17, Islam berkembang pesat dan mengubah Kerajaan Bima menjadi Kesultanan Bima. Sejak saat itu, Bima menjadi salah satu pusat penyebaran Islam dan kebudayaan di Indonesia bagian timur.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Sdn29.bimakota.sch.id