Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 17 JULI 2026 • 09:28 WIB

Menangkap Keberkahan Cacing Laut dalam Ritual Magis Bau Nyale di Lombok

Menangkap Keberkahan Cacing Laut dalam Ritual Magis Bau Nyale di LombokUpacara Bau Nyale (lomboksumbawatourism.ntbprov.go.id)

NTB- Nusa Tenggara Barat (NTB) tidak pernah kehabisan pesona budaya yang sarat akan makna spiritual. Salah satu agenda budaya tahunan yang paling dinanti dan disakralkan adalah Upacara Bau Nyale. Ritual masyarakat Lombok yang digelar tiap tahun ini bukan sekadar aktivitas biasa, melainkan bentuk penghormatan mendalam kepada Putri Mandalika. Legenda sakral ini dipercaya secara turun-temurun oleh masyarakat suku Sasak sejak abad ke-16, tepat setelah sang putri mengambil keputusan besar untuk mengorbankan diri. Kata "bau" sendiri berarti menangkap, sedangkan "nyale" merujuk pada cacing laut yang muncul di pesisir pantai.

Masyarakat Sasak percaya sepenuhnya bahwa nyale adalah jelmaan dari Putri Mandalika. Dalam kisahnya, Putri Mandalika sengaja mengorbankan diri dengan menceburkan diri ke laut selatan. Ia tidak ingin dimiliki oleh satu orang saja, melainkan ingin adil dimiliki dan membawa berkah bagi seluruh masyarakat Sasak. Sesaat setelah sang putri menghilang ditelan ombak, keajaiban terjadi dengan keluarnya nyale ke permukaan laut.

Bagi sebagian orang awam, nyale mungkin terlihat seperti cacing laut biasa. Namun bagi masyarakat Lombok, hewan ini memiliki nilai yang sangat sakral sekaligus menjadi hidangan musiman yang lezat dan dinikmati bersama setelah dimasak sebagai simbol penghormatan atas pengorbanan sang putri.

Baca juga: Keunikan Rumah Adat Nusa Tenggara Barat yang Sarat Makna Budaya


Waktu pelaksanaan Bau Nyale ditentukan dengan sangat spesifik melalui perhitungan astronomi kuno. Umumnya, ritual ini dilakukan pada tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan tradisional Sasak, yang biasanya jatuh bertepatan antara bulan Februari atau Maret di kalender masehi.

Awal mulanya, tradisi Bau Nyale hanya dilakukan oleh masyarakat Sasak di wilayah Lombok Tengah bagian selatan, khususnya di sekitar Pantai Seger, Kuta. Namun seiring berjalannya waktu, nilai budaya ini kini telah dilestarikan dan dibudayakan secara luas oleh masyarakat Lombok Barat hingga Lombok Timur bagian selatan. Lokasi perburuannya pun kini membentang di sepanjang garis pantai selatan Lombok, mulai dari ujung timur hingga ke ujung barat.

Prosesi ritual ini menyuguhkan atmosfer yang sangat magis dan komunal. Rangkaian acara dimulai sejak sore hari, di mana ribuan warga dan pengunjung mulai berkumpul memadati bibir pantai. Memasuki malam hari, suasana semakin meriah dengan diputarnya berbagai pertunjukan kesenian tradisional khas Sasak. Acara kemudian dilanjutkan dengan puncak ritual, yaitu berburu dan menangkap nyale menggunakan jaring tradisional yang berlangsung di bawah kegelapan malam hingga menjelang pagi hari.

Baca juga:  Asal Usul Lombok Timur: Jejak Sejarah, Budaya, dan Filosofi di Balik NamanyaKombinasi antara keunikan prosesi, nilai sejarah abad ke-16, dan kuatnya tradisi lokal inilah yang membuat upacara Bau Nyale sukses menarik minat wisatawan lokal maupun mancanegara untuk datang dan terlibat langsung dalam petualangan budaya yang tak terlupakan ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube/LOMBOK BUDAYA DAN WISATA

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menangkap Keberkahan Cacing Laut dalam Ritual Magis Bau Nyale di Lombok

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!