Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Jumat, 17 JULI 2026 • 09:05 WIB

Menenun Identitas dan Menjaga Kualitas Warisan Leluhur Tenun Pringgasela

Menenun Identitas dan Menjaga Kualitas Warisan Leluhur Tenun PringgaselaAktivitas Tenun Pringgasela (ntbprov.go.id)

NTB - Tenun Pringgasela bukan sekadar lembaran kain biasa. Ia adalah seni tradisional Lombok yang menenun keindahan dan diwariskan dengan penuh ketekunan dari generasi ke generasi. Lebih dari sekadar komoditas, kain tenun ini merupakan sebuah karya seni hidup yang menceritakan identitas, falsafah, dan budaya mendalam masyarakat Sasak. Kehadirannya pun selalu memberikan makna tambahan pada momen-momen berharga dalam siklus kehidupan masyarakat setempat, sekaligus menjadi pilar penting yang mendukung sektor perekonomian lokal.

Keberadaan Tenun Pringgasela yang tetap lestari hingga saat ini tidak lepas dari metode pengenalan budaya yang unik di dalam keluarga. Proses regenerasi dimulai sejak dini di lingkungan domestik. Generasi lama akan memberikan pelajaran tentang bagaimana cara menenun secara natural, menumbuhkan kesadaran dari dalam diri anak tanpa harus disuruh oleh orang lain.

Setelah anak beranjak dewasa, tahapan belajar akan meningkat. Mereka mulai diajarkan teknik pencampuran warna dan kerumitan motif. Sistem pembelajaran bertahap inilah yang menjadi cara ampuh masyarakat dalam menanamkan kecintaan budaya pada anak-anak mereka, sehingga tradisi ini tidak punah digilas zaman.

Baca juga:  Tari Tradisional Suku Sasak Sambut Wisatawan, Pesona Budaya Lombok yang Memikat


Satu pesan mendalam dari para leluhur Pringgasela yang selalu dipegang teguh adalah kewajiban untuk menunjukkan kualitas terlebih dahulu, sedangkan urusan motif bisa diatur kemudian. Prinsip ini melahirkan mahakarya yang sangat presisi. Setiap lembar kain Tenun Pringgasela memiliki perbedaan yang signifikan dibanding tenun lainnya, salah satunya terlihat pada ukuran dan kerapatan tenunan. Kepadatan kain yang luar biasa ini lahir dari penggunaan jumlah benang yang sangat banyak, berkisar antara 900 hingga 1020 helai benang dalam satu bidang kain. Hal inilah yang membuat kain ini begitu kokoh, rapi, dan bernilai tinggi.

Meskipun memiliki nilai budaya yang luhur, para penenun di masyarakat saat ini masih menghadapi tantangan yang tidak mudah. Tantangan tersebut datang dari dua sektor utama:

  1. Fluktuasi Bahan Baku: Dari segi bahan baku, para penenun sering dihadapkan pada harga benang dan pewarna yang tidak stabil atau tidak sama di pasaran, yang sering kali memberatkan modal produksi mereka.
  2. Sistem Penjualan dan Pelayanan: Tantangan berikutnya ada pada sistem pelayanan terhadap penenun, terutama mengenai bagaimana sistem penjualan yang berlaku. Dibutuhkan keterbukaan dan transparansi antara kedua belah pihak (perajin dan pengepul/pembeli) agar para penenun mendapatkan hak dan keuntungan yang adil atas kerja keras mereka.

Baca juga: Menelusuri Budaya Lombok di Desa Sade dan Kampung Tenun Sukarara


Melalui apresiasi yang tepat terhadap kualitas dan keadilan bagi para perajinnya, Tenun Pringgasela akan terus hidup menjadi kebanggaan Lombok yang tak lekang oleh waktu.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube/TVRI Nasional

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menenun Identitas dan Menjaga Kualitas Warisan Leluhur Tenun Pringgasela

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!