NTB - Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Bima di Nusa Tenggara Barat masih mempertahankan tradisi berpakaian yang sarat makna budaya dan religius. Salah satu warisan budaya yang tetap hidup hingga kini adalah Pakaian Rimpu, busana tradisional khas perempuan Bima yang menjadi simbol kesopanan, identitas daerah, sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai Islam.
Keunikan cara pemakaian serta filosofi yang terkandung di dalamnya membuat Rimpu tidak hanya dikenal sebagai pakaian adat, tetapi juga sebagai representasi karakter masyarakat Bima yang menjunjung tinggi adat dan agama.
Baca juga: 10 Tari Daerah NTB yang Penuh Makna, Ada yang Pakai Tombak
Pakaian Rimpu merupakan busana tradisional khas masyarakat Bima yang telah digunakan sejak ratusan tahun lalu, terutama setelah masuknya Islam ke wilayah Bima sekitar abad ke-17.
Rimpu dibuat menggunakan kain tenun khas Bima yang dililitkan menutupi tubuh dan kepala, menyerupai hijab syar’i. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan masih terus dijaga keberadaannya hingga sekarang. Secara umum, Rimpu terbagi menjadi dua jenis. Pertama, Rimpu Mpida, yaitu cara berpakaian yang menutupi seluruh bagian wajah kecuali mata.
Rimpu jenis ini biasanya dikenakan oleh perempuan yang belum menikah sebagai simbol menjaga kehormatan dan rasa malu. Kedua, Rimpu Colo, yaitu Rimpu yang memperlihatkan wajah secara utuh dan umumnya digunakan oleh perempuan yang telah menikah. Kedua jenis Rimpu tersebut memiliki filosofi yang kuat tentang etika, kesantunan, dan penghormatan terhadap adat istiadat masyarakat Bima.
Baca juga: 10 Tari Daerah NTB yang Penuh Makna, Ada yang Pakai Tombak
Keunikan Rimpu tidak hanya terletak pada cara pemakaiannya, tetapi juga pada kain tenun yang digunakan. Kain tenun Bima dibuat secara tradisional menggunakan alat tenun bukan mesin dengan motif khas yang memiliki makna tersendiri. Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian dan waktu yang cukup lama, sehingga menjadi salah satu bentuk keterampilan budaya yang sangat dihargai oleh masyarakat setempat.
Warna-warna cerah dan motif geometris pada kain Rimpu juga menjadi ciri khas yang membedakannya dari busana tradisional daerah lain di Indonesia. Hingga kini, tradisi memakai Rimpu masih dipertahankan dalam kehidupan masyarakat Bima, terutama saat acara adat, perayaan budaya, hingga festival daerah seperti Festival Rimpu Mantika.
Festival tersebut menjadi ajang pelestarian budaya sekaligus memperkenalkan Rimpu kepada generasi muda dan wisatawan. Pemerintah daerah bersama komunitas budaya juga aktif mengampanyekan penggunaan Rimpu sebagai warisan budaya lokal yang memiliki nilai sejarah, estetika, dan religius yang tinggi.
Dengan nilai filosofis yang mendalam serta keindahan kain tenunnya, Pakaian Rimpu tidak hanya menjadi simbol kesopanan perempuan Bima, tetapi juga menjadi kekayaan budaya Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Indonesia Travel