Rabu, 21 JANUARI 2026 • 19:40 WIB

Keunikan Rumah Adat Suku Sasak Lombok yang Sarat Nilai Budaya

Author

Rumah Adat Suku Sasak (Youtube/Global Budaya Official)

NTBPulau Lombok tidak hanya dikenal karena pantai dan alamnya yang memukau, tetapi juga karena kekayaan budaya yang masih terjaga hingga kini.

Salah satu warisan budaya tersebut adalah rumah adat suku Sasak, suku asli masyarakat Lombok

Jika kamu berkunjung ke Lombok Tengah, khususnya Desa Sade, kamu bisa melihat langsung rumah adat Sasak yang masih dihuni dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat setempat.

Baca juga: Arsitektur Rumah Tahan Gempa dari Istana Dalam Loka, Sumbawa

Tiga Jenis Bangunan Rumah Adat Suku Sasak

Rumah adat suku Sasak memiliki tiga tipe bangunan utama, yaitu Bale Bonter, Bale Kodong, dan Bale Tani.

Bale Bonter merupakan rumah yang dimiliki oleh pejabat desa, Bale Kodong digunakan oleh orang tua yang ingin menghabiskan masa tuanya, sedangkan Bale Tani adalah rumah yang ditempati oleh keluarga.

Dari ketiga jenis tersebut, Bale Tani menjadi bangunan yang paling umum dijumpai di permukiman masyarakat Sasak.

Struktur dan Pembagian Ruang Bale Tani

Bale Tani dibangun menggunakan bahan alami seperti kayu, anyaman bambu, dan atap dari alang-alang kering. Rumah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu Bale Dalam dan Bale Luar.

Bale Dalam digunakan khusus untuk anggota keluarga perempuan sekaligus berfungsi sebagai dapur, sedangkan Bale Luar digunakan sebagai ruang tamu dan tempat berkumpul anggota keluarga lainnya.

Lantai Rumah dari Campuran Tanah dan Kotoran Kerbau

Keunikan rumah adat Sasak terlihat jelas pada lantainya yang terbuat dari campuran tanah liat, kotoran kerbau, abu jerami, dan bahan alami lainnya.

Kotoran kerbau dipercaya mampu membuat lantai lebih halus, kuat, serta dapat mengusir serangga.

Proses pembersihan lantai ini dilakukan secara rutin, terutama sebelum pelaksanaan upacara adat, dan meskipun menggunakan kotoran kerbau, lantai rumah tidak menimbulkan bau.

Dinding Anyaman Bambu dan Atap Alang-Alang

Dinding rumah adat Sasak dibuat dari anyaman bambu yang ringan namun kokoh.

Anyaman bambu membantu sirkulasi udara sehingga rumah terasa sejuk meskipun Lombok memiliki suhu yang cukup panas.

Atap rumah terbuat dari alang-alang yang dibentuk menyerupai gunungan dan berfungsi melindungi rumah dari panas sekaligus membantu bangunan tetap stabil saat terjadi guncangan.

Filosofi Pembangunan dan Kenyamanan Hunian

Pembangunan rumah adat suku Sasak tidak dilakukan secara sembarangan.

Masyarakat Sasak memilih hari baik serta menghindari lokasi tertentu seperti bekas perapian, tempat pembuangan sampah, atau sumur lama karena dipercaya membawa nasib kurang baik.

Pintu rumah dibuat rendah sebagai simbol penghormatan kepada pemilik rumah, sementara struktur bangunan yang ringan membuat rumah tidak mudah roboh dan nyaman ditinggali.

Rumah adat suku Sasak bukan sekadar tempat tinggal, tetapi menjadi cerminan nilai budaya, kepercayaan, dan cara hidup masyarakat Lombok yang selaras dengan alam.

Hingga kini, rumah adat ini tetap dipertahankan sebagai identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih hidup di tengah perkembangan zaman modern.

Baca juga: Uma Lengge, Rumah Adat Bima yang Menyimpan Jejak Budaya dan Butuh Perhatian

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube/Global Budaya Official

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU