Rumah Adat Karang Bayan (Youtube/Dinda Qita)
NTB - Kalau kamu sedang mencari pengalaman wisata budaya di Lombok Barat, Desa Karang Bayan wajib masuk daftar kunjunganmu.
Di desa ini, rumah adat Karang Bayan menjadi saksi sejarah lebih dari 600 tahun kehidupan masyarakat Sasak.
Tidak hanya bangunannya yang unik, setiap sudut rumah adat ini menyimpan filosofi dan cerita yang kaya makna.
Baca juga: Keunikan Rumah Adat Suku Sasak Lombok yang Sarat Nilai Budaya
Rumah adat Karang Bayan berdiri sekitar 600 tahun lalu dan memiliki banyak ukiran khas yang menyimbolkan kearifan lokal.
Misalnya, ukiran bunga teratai yang melambangkan posisi ketua adat sebagai pembimbing masyarakat, serta ukiran “mata” yang menjadi simbol pengawasan dan hukum kehidupan.
Bahkan, ada ukiran rahang yang menjulang ke atas dan tumbuhan liar yang melambangkan alur kehidupan dan perkembangan masyarakat.
Filosofi ini membuat rumah adat bukan sekadar tempat tinggal, tapi juga pusat budaya dan hukum adat.
Rumah adat ini masih digunakan sebagai tempat menyelesaikan masalah adat yang tidak bisa diselesaikan di kantor desa.
Jadi, ketika terjadi perselisihan atau hal-hal penting dalam komunitas, masyarakat Karang Bayan masih mengandalkan rumah adat sebagai ruang musyawarah dan pengambilan keputusan.
Kamu pasti akan kagum saat melihat material rumah adat ini. Dasarnya dari tanah sari, dinding dari kayu nangka, atap dari alang-alang, dan usuk-usuknya dibuat dari bambu.
Tangga rumah adat memiliki tiga pijakan yang melambangkan fase kehidupan manusia: sejak dalam rahim ibu, lahir hingga dewasa, dan setelah meninggal.
Setiap tamu yang datang diminta menunduk sebagai bentuk hormat sebelum masuk, sesuai tradisi setempat.
Di dalam rumah, terdapat empat ruangan utama: dua untuk tempat tidur dan dua lagi untuk menyimpan pusaka dan hasil panen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Dinda Qita