NTB – Memasuki musim kunjungan tinggi (high season) yang berlangsung dari Mei hingga Oktober, kawasan wisata Gili Trawangan, Meno, dan Air (Tramena) dibanjiri ribuan wisatawan setiap harinya.
Ketua Asosiasi Hotel Gili (AHG), Lalu Kusnawan, menjelaskan bahwa kunjungan ke Gili Tramena didominasi oleh wisatawan asing, mencapai 99 persen dari total kunjungan.
“Kunjungan bisa mencapai 3.000 hingga 3.500 wisatawan per hari, mayoritas dari luar negeri. Tapi fasilitas kesehatannya sangat terbatas. Ini sangat berisiko,” ujar Kusnawan, Selasa, 22 Juli 2025.
Kendati menjadi ikon wisata di NTB, fasilitas kesehatan di kawasan ini sangat minim. Di Gili Trawangan saja, hanya ada satu Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tidak dilengkapi dokter.
Ia menyoroti pentingnya pendekatan preventif untuk mencegah risiko kesehatan dan keselamatan wisatawan. Apalagi NTB sempat mendapat sorotan setelah insiden meninggalnya seorang wisatawan asal Brasil, Juliana Marins, beberapa waktu lalu.
“Jangan tunggu kejadian dulu baru kita bertindak. Harus ada pembenahan menyeluruh, terutama menyangkut kesehatan,” tegasnya.
Kusnawan berharap pemerintah daerah segera merancang langkah konkret, termasuk membangun fasilitas kesehatan yang memadai seperti international hospital, setidaknya mulai dari tahap awal tahun depan.
Selain pembangunan jangka panjang, ia juga mendorong pembentukan posko terpadu saat high season, yang melibatkan TNI AL, Polri, Basarnas, tenaga medis, serta unsur pariwisata.
Posko ini dinilai penting untuk merespons cepat jika terjadi kecelakaan laut, gangguan kesehatan wisatawan, atau bencana alam.
“Posko ini adalah kebutuhan vital. Tidak hanya bagi masyarakat lokal atau pelaku usaha, tapi juga demi menjamin keselamatan wisatawan,” katanya.
Tak hanya masalah kesehatan, Kusnawan juga menyoroti krisis air bersih di Gili Meno.
Ia menyebut, selama setahun terakhir warga mengalami kesulitan akses air bersih.
Meski Bupati Lombok Utara telah menyiapkan action plan, ia menegaskan air bersih adalah kebutuhan dasar yang harus dijamin untuk masyarakat maupun pelaku industri wisata.
“Kami di asosiasi tetap mendorong penanganan sesuai aturan. Tapi yang paling penting adalah kontinuitas pasokan air untuk mendukung kehidupan dan pariwisata,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan