Senin, 26 JANUARI 2026 • 09:54 WIB

Macam-Macam Rumah Adat Sasak Lombok yang Masih Dilestarikan Hingga Kini

Author

Desa Sade (Youtube/NEXT SCENE ID)

NTBPulau Lombok tidak hanya dikenal karena pantainya yang indah, tetapi juga karena kekayaan budaya yang masih hidup dan dijaga oleh masyarakatnya.

Salah satu warisan budaya yang paling menarik perhatian adalah rumah adat Sasak Lombok, khususnya yang dapat kamu temui di Desa Adat Sade, Lombok Tengah.

Desa ini dihuni oleh suku asli Sasak sejak ratusan tahun lalu dan hingga kini tetap mempertahankan adat istiadat leluhur.

Rumah adat Sasak dibangun menggunakan bahan-bahan alami seperti bambu, kayu, tanah, dan atap alang-alang.

Meski di sekitarnya sudah banyak bangunan modern, rumah adat ini tetap berdiri kokoh dan menjadi simbol identitas masyarakat Sasak.

Keberadaannya juga menjadikan Desa Sade sebagai salah satu destinasi wisata budaya yang populer di Lombok.

Di Desa Sade sendiri terdapat empat jenis bangunan adat, tiga di antaranya digunakan sebagai rumah tinggal dan satu lainnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan padi.

Baca juga: Review Pondok Rinjani Ibu Sita Sembalun, Villa Nyaman dengan View Gunung Rinjani

Balai Tani (Bale Gunung Rate)

Balai Tani atau Bale Gunung Rate merupakan rumah adat tertua di Desa Sade. Rumah ini hanya boleh dihuni oleh satu kepala keluarga.

Di dalamnya terdapat tiga ruang utama, yaitu tempat tidur, dapur, dan ruang penerimaan tamu. Aturan satu kepala keluarga ini mencerminkan nilai kemandirian, karena anak yang sudah menikah wajib keluar dan membangun rumah sendiri.

Balai Bontar

Balai Bontar memiliki bentuk yang lebih besar dan terlihat sedikit lebih modern dibanding Balai Tani, meskipun tetap mempertahankan unsur tradisional.

Rumah ini memiliki empat hingga enam ruangan, dengan dapur tetap berada di dalam rumah.

Berbeda dengan Balai Tani, Balai Bontar memperbolehkan dua kepala keluarga tinggal bersama, namun hanya untuk sementara waktu, kecuali dalam kondisi tertentu seperti orang tua yang tinggal bersama anaknya.

Balai Kodong

Balai Kodong merupakan rumah adat yang digunakan sebagai tempat tinggal pasangan yang baru menikah.

Rumah ini bersifat sementara dan menjadi tempat bagi pasangan tersebut untuk memikirkan masa depan mereka.

Lama tinggal di Balai Kodong tergantung kemampuan ekonomi pasangan, bisa beberapa bulan hingga beberapa tahun, sampai mereka mampu membangun rumah sendiri.

Lumbung Padi (Alang)

Selain rumah tinggal, masyarakat Sasak juga memiliki lumbung padi yang disebut Alang. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat menyimpan hasil panen.

Tidak semua orang boleh masuk ke dalamnya; hanya orang yang sudah memiliki keturunan, khususnya ibu-ibu, yang diperbolehkan naik ke lumbung karena dipercaya membawa keberkahan.

Keunikan rumah adat Sasak tidak hanya terletak pada bentuknya, tetapi juga pada filosofi dan aturan hidup yang menyertainya.

Hingga kini, masyarakat Desa Sade tetap menjalani kehidupan sehari-hari secara tradisional meskipun berada di tengah perkembangan zaman.

Jika kamu berkunjung ke Lombok, melihat langsung rumah adat Sasak akan memberi pengalaman budaya yang autentik dan penuh makna.

Baca juga: Menginap Nyaman di Edelweis Villa Sembalun, Kaki Gunung Rinjani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube/NEXT SCENE ID

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU