Rabu, 08 JULI 2026 • 09:15 WIB

Menyelisik Kemegahan Regalia Kesultanan Sumbawa Simbol Kebesaran dan Sakralitas Adat Samawa

Author

Parewa kamutar (Portal Lembaga Adat Tanah Samawa)

NTB - Dalam tatanan peradaban Kesultanan Sumbawa, kekuasaan dan identitas seorang penguasa tidak hanya tercermin dari garis keturunannya, melainkan juga melalui kepemilikan benda-benda pusaka sakral yang disebut regalia. Di Tana Samawa, regalia terbagi menjadi dua klasifikasi utama sesuai dengan fungsi dan momentum penggunaannya. 

Berikut adalah dua pembagian regalia Kesultanan Sumbawa beserta makna filosofis di baliknya:

Regalia Utama (Parewa Kamutar)

Parewa Kamutar merupakan lambang kebesaran tertinggi Kesultanan Sumbawa yang kedudukannya paling sakral dan tidak boleh dikeluarkan secara sembarangan. Pusaka-pusaka ini hanya akan dihadirkan dalam momentum-momentum krusial bertaraf besar, salah satunya adalah dalam upacara Tokal Adat Rea (upacara adat besar atau puncak kesultanan)

Baca juga: Keunikan Rumah Adat Nusa Tenggara Barat yang Sarat Makna Budaya

Parewa Kamutar terdiri dari beberapa instrumen penting meliputi sarpedang (payung kamutar), baruwayat (keris kamutar) , serta cilo kamutar (mahkota kebesaran) yang menandai kekuasaan tertinggi sultan. Selain itu, terdapat pula badong yang memuat filosofi kepatuhan rakyat sekaligus pengayoman penguasa, kantar (perisai kamutar), serta long barora (tombak kamutar).

Keagungan pusaka ini terlihat nyata pada April 2011, di mana masing-masing instrumen dibawa oleh orang-orang khusus yang terpilih secara adat, yang dikenal sebagai Tau Rabawa, dalam prosesi ritual nginring kamutar pada upacara penobatan Sultan Muhammad Kaharuddin IV di Sumbawa Besar.

Regalia Harian (Parewa Tokal Adat Ode)

Parewa Tokal Adat Ode (Portal Lembaga Adat Tanah Samawa)

Berbeda dengan pusaka utama yang bersifat sakral dan terbatas pada upacara besar, Kesultanan Sumbawa juga memiliki Parewa Tokal Adat Ode yang berfungsi sebagai regalia harian. Pusaka kelompok kedua ini merupakan perangkat perlengkapan harian yang senantiasa menyertai aktivitas sultan.

Baca juga:  Mengenal Istana Bala Kuning Pusat Kebangkitan Adat Tau ke Tana Samawa di Sumbawa

Rangkaian regalia harian ini terdiri dari pakebas (kipas), sakaras sebagai tempat menyajikan sirih pinang, namo (wadah tempat air), cere (ceret), panyomolati (tempat berludah), serta salepa yang digunakan secara khusus sebagai tempat rokok sultan.

Melalui pembagian tata cara regalia ini, Kesultanan Sumbawa menunjukkan sebuah detail tradisi istana yang sangat maju di masanya. Kombinasi antar kedua regalia tersebut membuktikan bahwa dalam Kebudayaan Samawa, aspek estetika, fungsional, dan nilai spiritual keagamaan dapat berpadu secara utuh dan harmonis. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Portal Lembaga Adat Tana Samawa

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU