NTB - Peristiwa kelam pernah terjadi di negeri ini. Tepat pada 10 April 1815 Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat meletus. Letusan ini menjadi salah satu momen paling dahsyat dalam sejarah bumi. Yang bikin peristiwa ini makin menarik, dampaknya bukan cuma dirasakan di Indonesia, tapi sampai ke Eropa dan mengubah kondisi iklim dunia selama beberapa tahun.
Letusan Tambora sebenarnya sudah dimulai sejak 5 April 1815, sebelum akhirnya mencapai puncaknya lima hari kemudian. Dalam peristiwa itu, gunung ini memuntahkan material vulkanik dalam jumlah sangat besar. Diperkirakan mencapai 160 kilometer kubik, dengan kolom asap yang naik hingga sekitar 43 kilometer ke atmosfer, bahkan menembus lapisan stratosfer.
Baca juga: Cara Menuju ke Pantai Pink Lombok, Sekaligus Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Kekuatan letusan ini juga mengubah bentuk gunung secara drastis. Ketinggian Tambora yang sebelumnya sekitar 4000 meter di atas permukaan laut, turun menjadi sekitar 2800 meter setelah letusan. Dampak terbesar dari letusan ini bukan hanya kehancuran di sekitar lokasi, tapi efeknya terhadap atmosfer bumi.
Material seperti abu, debu, aerosol, dan gas sulfur tersebar luas hingga ke berbagai belahan dunia. Partikel-partikel ini bertahan di lapisan stratosfer dan menghalangi sebagian sinar matahari yang seharusnya sampai ke permukaan bumi. Akibatnya, suhu global menurun.
Dampaknya Sampai Eropa
Penelitian dari Richard Stothers menunjukkan bahwa suhu bumi saat itu turun sekitar 0,4 hingga 0,7 derajat Celsius dari kondisi normal. Angka ini memang terlihat kecil, tapi dampaknya sangat besar bagi kehidupan. Efek penurunan suhu ini paling terasa pada tahun 1816 yang kemudian dikenal sebagai “tahun tanpa musim panas”.
Di belahan bumi utara, musim panas tidak terasa seperti biasanya. Suhu tetap dingin, bahkan di beberapa wilayah Eropa terjadi hujan salju di tengah musim panas. Kondisi ini membuat hasil panen anjlok drastis. Di Eropa Barat, produksi pertanian dilaporkan turun hingga lebih dari 75 persen, yang kemudian memicu kelaparan di berbagai wilayah.
Baca juga: 7 Fakta Danau Lebo, Destinasi Hidden Gem di Sumbawa yang Masih Alami Banget
Dampaknya juga menjalar ke Asia. Pada tahun 1817, pola monsun terganggu dan memicu kondisi cuaca ekstrem di wilayah India. Fenomena ini juga berkaitan dengan gangguan seperti El Niño, yang memperparah situasi. Salah satu dampak terburuknya adalah munculnya wabah kolera yang kemudian menyebar ke berbagai negara, mulai dari Myanmar, Thailand, Filipina, Jepang, hingga China dan Persia.
Ada Sisi Positif dari Letusan Gunung Tambora
Meski membawa banyak dampak negatif, letusan Tambora juga meninggalkan sisi positif dalam jangka panjang. Material vulkanik yang tersebar membuat tanah di sekitarnya menjadi sangat subur. Kawasan ini kemudian berkembang menjadi wilayah dengan ekosistem yang kaya dan potensi pertanian yang baik. Hingga kini, Tambora juga menjadi bagian penting dari kawasan strategis di Nusa Tenggara Barat, bahkan rutin diperingati melalui berbagai kegiatan seperti festival tahunan.
Baca juga: Melihat Keindahan Pulau Kenawa, Surga Tersembunyi di Ujung Barat Pulau Sumbawa
Peristiwa ini jadi pengingat bahwa bumi adalah sistem yang saling terhubung. Apa yang terjadi di satu titik bisa berdampak ke seluruh dunia. Indonesia sendiri berada di kawasan Ring of Fire, yang membuatnya memiliki banyak gunung berapi aktif. Karena itu, memahami mitigasi bencana dan lebih sadar terhadap kondisi alam menjadi hal yang sangat penting. Letusan Tambora bukan sekadar peristiwa sejarah, tapi bukti nyata betapa besar kekuatan alam dan bagaimana satu kejadian bisa mengubah dunia secara global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Kebumenkab.go.id