NTB - Kota Mataram dikenal sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Namun di balik statusnya sebagai pusat pemerintahan, kota ini menyimpan sejarah panjang yang membentuk identitasnya hingga sekarang.
Mulai dari pengaruh adat Sasak, ekspedisi kerajaan, hingga masa kolonial Belanda, semua menjadi bagian penting dalam perjalanan Kota Mataram Lombok.
Baca juga: Jelajahi 10 Destinasi Wisata Terbaik di Mataram yang Wajib Dikunjungi
Kota Mataram dan Pengaruh Budaya Sasak
Sejak awal, kehidupan masyarakat Kota Mataram sangat dipengaruhi oleh budaya Sasak. Nilai adat, tradisi, dan kearifan lokal masih terasa kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah yang membuat Mataram bukan sekadar kota modern, tetapi juga kota yang tetap menjaga akar budayanya.
Selain itu, Mataram juga menjadi bagian dari kawasan metropolitan Mataram Raya, salah satu kawasan perkotaan terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara.
Asal Usul Nama Mataram dalam Sejarah Lombok
Nama Mataram tidak muncul begitu saja. Dalam catatan sejarah dan literatur lokal seperti Babad Lombok, Mataram berkaitan erat dengan ekspedisi besar dari Jawa yang dipimpin oleh Sunan Prapen.
Ekspedisi ini membawa ribuan pasukan dan tokoh penting dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Salah satu tokoh yang disebut berasal dari Mataram adalah Patih Mentaram, yang memiliki peran penting dalam proses penaklukan dan penyebaran pengaruh Islam di Pulau Lombok.
Masa Kerajaan dan Pemindahan Ibu Kota
Pada abad ke-19, Pulau Lombok diperintah oleh raja-raja lokal. Raja Mataram Lombok dikenal sebagai pemimpin yang kaya dan cakap dalam menata kota.
Pada tahun 1842 hingga 1843, beberapa kerajaan seperti Pagesangan dan Kahuripan berhasil ditaklukkan.
Setelah itu, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Cakranegara, yang hingga kini masih menjadi salah satu pusat aktivitas kota.
Bukti kejayaan masa itu terlihat dari penggunaan aksara Kawi pada ukiran dan bangunan istana.
Kejatuhan Kerajaan dan Awal Pemerintahan Kolonial
Kejayaan Kerajaan Mataram Lombok berakhir setelah campur tangan pemerintah Hindia Belanda.
Peristiwa ini bahkan menewaskan Jenderal P.P.H. van Ham, yang kini dikenang melalui monumen di Karang Jangkong.
Setelah itu, sistem pemerintahan kolonial mulai diterapkan dengan pola dwitunggal, di mana Lombok berada di bawah Afdeling Bali Lombok yang berpusat di Singaraja.
Mataram Menuju Kota Modern
Dalam sistem kolonial, Pulau Lombok dibagi menjadi wilayah Lombok Barat, Lombok Tengah, dan Lombok Timur.
Kawasan seperti Ampenan, Cakranegara, dan Gerung mulai berkembang menjadi pusat administrasi dan ekonomi.
Dari sinilah cikal bakal Kota Mataram modern terbentuk hingga akhirnya resmi menjadi ibu kota Provinsi NTB.
Sejarah panjang inilah yang menjadikan Kota Mataram bukan hanya pusat pemerintahan, tetapi juga simbol perpaduan antara budaya, sejarah, dan perkembangan zaman.
Kalau kamu berkunjung ke Mataram hari ini, setiap sudut kotanya seolah menyimpan cerita masa lalu yang masih hidup hingga sekarang.
Baca juga: Kota Mataram, Jantung Nusa Tenggara Barat yang Penuh Pesona
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Historia Channel