Kota Tua Ampenan (Youtube/Historia Channel)
NTB - Kota Tua Ampenan merupakan salah satu kawasan bersejarah di Pulau Lombok yang menyimpan jejak panjang perjalanan perdagangan dan kehidupan multietnis sejak masa kolonial.
Dahulu dikenal sebagai pelabuhan utama yang menghubungkan Lombok dengan berbagai daerah, Ampenan menjadi tempat singgah beragam suku dan budaya yang hidup berdampingan hingga kini.
Keunikan sejarah, bangunan tua peninggalan Belanda, serta suasana pesisir yang khas menjadikan Kota Tua Ampenan bukan sekadar kawasan lama, tetapi ruang hidup yang terus bercerita tentang masa lalu Lombok.
Baca juga: Mengenal Pulau Lombok, Surga Eksotis di Timur Bali yang Wajib Kamu Jelajahi
Kota Tua Ampenan terletak di wilayah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kawasan ini dikenal sebagai pintu masuk utama Pulau Lombok pada masa lalu, terutama saat era penjajahan Belanda.
Nama Ampenan berasal dari kata amben dalam bahasa Sasak yang berarti tempat singgah.
Penamaan ini sangat sesuai karena sejak awal Ampenan berfungsi sebagai kota pelabuhan yang menjadi persinggahan kapal, pedagang, dan pendatang dari berbagai daerah.
Pada awal abad ke-20, Belanda membangun Ampenan sebagai pusat pelabuhan dan perdagangan di Pulau Lombok.
Pelabuhan ini menjadi penghubung utama antara Pulau Lombok dan Pulau Bali, sekaligus jalur distribusi hasil bumi.
Aktivitas ekonomi berkembang pesat, ditandai dengan berdirinya gudang, kantor, dan bangunan bergaya art deco yang masih bisa kamu lihat hingga sekarang.
Ampenan pada masa itu menjadi kota yang sibuk dan strategis. Keberadaan pelabuhan mendorong pertumbuhan ekonomi dan menjadikan kawasan ini sebagai pusat perdagangan dan interaksi sosial.
Salah satu daya tarik utama Kota Tua Ampenan adalah kehidupan masyarakatnya yang multietnis.
Hingga kini, kamu masih bisa menemukan kawasan seperti Kampung Tionghoa, Kampung Arab, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Bali, dan Kampung Banjar.
Keberagaman ini menciptakan budaya hidup berdampingan yang harmonis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Historia Channel