Kerajaan Kahuripan (Youtube/Historia Channel)
NTB - Kota Mataram dikenal sebagai ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Namun di balik statusnya sebagai pusat pemerintahan, kota ini menyimpan sejarah panjang yang membentuk identitasnya hingga sekarang.
Mulai dari pengaruh adat Sasak, ekspedisi kerajaan, hingga masa kolonial Belanda, semua menjadi bagian penting dalam perjalanan Kota Mataram Lombok.
Baca juga: Jelajahi 10 Destinasi Wisata Terbaik di Mataram yang Wajib Dikunjungi
Sejak awal, kehidupan masyarakat Kota Mataram sangat dipengaruhi oleh budaya Sasak. Nilai adat, tradisi, dan kearifan lokal masih terasa kuat dalam kehidupan sehari-hari.
Inilah yang membuat Mataram bukan sekadar kota modern, tetapi juga kota yang tetap menjaga akar budayanya.
Selain itu, Mataram juga menjadi bagian dari kawasan metropolitan Mataram Raya, salah satu kawasan perkotaan terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara.
Nama Mataram tidak muncul begitu saja. Dalam catatan sejarah dan literatur lokal seperti Babad Lombok, Mataram berkaitan erat dengan ekspedisi besar dari Jawa yang dipimpin oleh Sunan Prapen.
Ekspedisi ini membawa ribuan pasukan dan tokoh penting dari berbagai daerah di Pulau Jawa.
Salah satu tokoh yang disebut berasal dari Mataram adalah Patih Mentaram, yang memiliki peran penting dalam proses penaklukan dan penyebaran pengaruh Islam di Pulau Lombok.
Pada abad ke-19, Pulau Lombok diperintah oleh raja-raja lokal. Raja Mataram Lombok dikenal sebagai pemimpin yang kaya dan cakap dalam menata kota.
Pada tahun 1842 hingga 1843, beberapa kerajaan seperti Pagesangan dan Kahuripan berhasil ditaklukkan.
Setelah itu, ibu kota kerajaan dipindahkan ke Cakranegara, yang hingga kini masih menjadi salah satu pusat aktivitas kota.
Bukti kejayaan masa itu terlihat dari penggunaan aksara Kawi pada ukiran dan bangunan istana.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Historia Channel