NTB - Pulau Lombok tak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tapi juga kehidupan peternaknya yang masih bertahan dengan cara tradisional.
Di Lombok Timur, tepatnya di Desa Pengadangan, kamu bisa melihat langsung bagaimana peternak sapi mengelola ternaknya dengan metode sederhana yang sudah dilakukan turun-temurun.
Meski terlihat klasik, sistem ini menyimpan cerita perjuangan dan potensi besar.
Baca juga: Kaya Raya! Inilah Macam-Macam Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat
Kandang Kelompok, Ciri Khas Peternakan Lombok
Di wilayah ini, kandang sapi dibuat dalam bentuk kandang kelompok dengan kapasitas mencapai ratusan ekor. Setiap peternak biasanya memiliki satu kandang kecil berisi tiga hingga lima ekor sapi.
Sistem ini muncul setelah adanya edukasi dari pemerintah desa, menggantikan pola lama di mana sapi dibiarkan berkeliaran bebas.
Jenis sapi yang dipelihara pun beragam, mulai dari sapi lokal, sapi Bali, hingga persilangan seperti simental dan limosin.
Keberagaman ini menjadi kekuatan tersendiri bagi peternak Lombok karena bisa menyesuaikan dengan kebutuhan pasar.
Pakan Tradisional, Ngarit Masih Jadi Andalan
Hingga saat ini, mayoritas peternak masih mengandalkan sistem ngarit, yaitu mencari rumput segar langsung dari sawah atau ladang.
Kamu bisa melihat aktivitas ini hampir setiap hari, terutama karena sebagian besar peternak juga berprofesi sebagai petani.
Namun, sistem ini punya tantangan. Saat musim kemarau atau cuaca ekstrem, ketersediaan rumput menurun.
Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan sapi, bahkan ada kasus sapi mati akibat asupan pakan yang kurang optimal.
Limbah Ternak yang Belum Dimanfaatkan
Satu hal yang masih menjadi catatan adalah pengelolaan limbah ternak. Kotoran sapi umumnya belum dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau biogas, melainkan langsung dibuang ke sungai.
Padahal, jika dikelola dengan baik, limbah ini bisa menjadi sumber energi dan tambahan penghasilan bagi peternak.
Harapan Baru dari Edukasi dan Teknologi
Kabar baiknya, perubahan mulai terlihat. Beberapa peternak sudah mencoba pakan tambahan berupa konsentrat atau pakan sereal.
Hasilnya cukup menjanjikan, dengan peningkatan bobot sapi hingga lebih cepat dan frekuensi ngarit yang berkurang.
Mahasiswa dan akademisi juga mulai terlibat, memberikan edukasi tentang fermentasi jerami, manajemen pakan, hingga perawatan kesehatan ternak.
Jika pendekatan ini terus dikembangkan, peternakan sapi tradisional Lombok berpeluang naik kelas tanpa meninggalkan kearifan lokal.
Tradisional Bukan Berarti Tertinggal
Peternakan sapi di Lombok Timur membuktikan bahwa cara tradisional masih bisa bertahan di era modern.
Dengan sentuhan edukasi, teknologi, dan dukungan berkelanjutan, kamu bisa melihat bagaimana peternak lokal perlahan meningkatkan kesejahteraan tanpa kehilangan identitasnya.
Peternakan sederhana ini bukan sekadar tentang sapi, tapi juga tentang ketekunan, adaptasi, dan harapan masa depan.
Baca juga: Desa Sigerongan Lombok Barat, Ketika Ikan Cupang dan Jajanan Tradisional Menggerakkan Ekonomi Warga
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/ALDKN PRODUCTION