Kamis, 29 JANUARI 2026 • 09:10 WIB

Desa Sigerongan Lombok Barat, Ketika Ikan Cupang dan Jajanan Tradisional Menggerakkan Ekonomi Warga

Author

Budidaya Ikan Cupang (Youtube/NTB SATU)

NTBDesa Sigerongan di Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat, punya cara unik dalam menggerakkan roda perekonomian warganya.

Desa ini sempat menjadi sorotan publik berkat sosok kepala desanya, Dian Siswandi, yang viral dengan gaya rambut nyentrik.

Namun di balik itu, ada potensi desa yang jauh lebih menarik untuk kamu kenal, mulai dari budidaya ikan hias hingga industri kuliner tradisional.

Baca juga: Pesona Alam, Budaya, dan Suku NTB yang Bikin Dunia Jatuh Cinta

Budidaya Ikan Hias Jadi Tulang Punggung Ekonomi

Salah satu potensi unggulan Desa Sigerongan berada di sektor perikanan, khususnya budidaya ikan hias jenis cupang.

Di Dusun Embung Pas Barat dan Embung Pas Timur, sekitar 90 persen warga menggantungkan hidup dari usaha ini.

Hampir setiap rumah memiliki deretan botol atau wadah berisi ikan cupang yang disusun rapi.

Budidaya ikan cupang tidak dilakukan secara sembarangan. Prosesnya dimulai dari pemisahan indukan jantan dan betina, penetasan telur, hingga perawatan bibit yang membutuhkan ketelatenan tinggi.

Dalam waktu sekitar satu hingga tiga bulan, ikan cupang sudah bisa dipanen dan dijual.

Harga ikan cupang yang dijual warga cukup bervariasi, mulai dari Rp2.000 hingga Rp25.000 per ekor, tergantung jenis dan ukuran.

Selain ikan, warga juga menjual akuarium dengan harga terjangkau. Inilah yang membuat perputaran ekonomi di desa terus berjalan setiap hari.

Kuliner Tradisional yang Tetap Bertahan

Tak hanya mengandalkan sektor perikanan, Desa Sigerongan juga dikenal sebagai sentra industri kecil jajanan tradisional.

Opak-opak dan jaje tujuh menjadi produk andalan warga Dusun Sigerongan. Menariknya, hampir seluruh ibu rumah tangga di dusun ini terlibat langsung dalam proses produksinya.

Bahan utama jajanan ini adalah singkong, yang diolah secara tradisional namun konsisten setiap hari.

Para perempuan tergabung dalam kelompok wanita tani, sehingga produksi bisa dilakukan secara berkelanjutan.

Harga jajanan ini pun ramah di kantong, sekitar Rp10.000 per bungkus, membuatnya mudah dipasarkan ke berbagai kalangan.

Salah satu pelaku usaha, Ibu Masnah, telah menjalankan usaha jaje tujuh secara turun-temurun selama lebih dari 20 tahun.

Meski keuntungan tidak selalu besar dan bergantung pada harga bahan baku, usaha ini mampu menopang kehidupan keluarga hingga anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi.

Potensi Lokal yang Layak Dikembangkan

Kombinasi budidaya ikan hias dan industri kuliner tradisional membuktikan bahwa Desa Sigerongan memiliki potensi ekonomi lokal yang kuat.

Apa yang ditampilkan oleh kepala desa melalui gaya rambutnya bukan sekadar sensasi, melainkan simbol promosi potensi desa yang nyata.

Jika potensi ini terus dikembangkan dengan dukungan pemasaran dan inovasi, bukan tidak mungkin Desa Sigerongan akan menjadi contoh sukses pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal di Lombok Barat.

Baca juga: Jelajahi Tugu Titik Nol Kilometer Mataram, Destinasi Baru yang Wajib Kamu Kunjungi

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube/NTB SATU

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU