NTB - Indonesia merupakan wilayah yang rawan gempa bumi karena berada di jalur cincin api.
Namun, kondisi alam tersebut ternyata sudah diantisipasi oleh nenek moyang Nusantara sejak ratusan tahun lalu melalui konsep arsitektur tradisional yang cerdas.
Salah satu contohnya dapat kamu temukan pada Istana Dalam Loka di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, yang dikenal sebagai bangunan kayu tahan gempa.
Baca juga: Uma Lengge, Rumah Adat Bima yang Menyimpan Jejak Budaya dan Butuh Perhatian
Sejarah dan Lokasi Istana Dalam Loka
Istana Dalam Loka dibangun pada tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalaludin Syah III, Sultan ke-16 dari Dinasti Dewa Dalam Bawa.
Pada masanya, bangunan ini digunakan sebagai kediaman raja beserta keluarga, sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Sumbawa.
Hingga saat ini, istana masih berdiri dengan kondisi yang relatif baik dan tetap mempertahankan struktur aslinya.
Lokasi istana berada di tengah kota Sumbawa Besar dan dapat ditempuh sekitar 10 menit perjalanan dari Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin.
Karena letaknya strategis, Istana Dalam Loka sering menjadi tujuan wisata sejarah bagi masyarakat lokal maupun wisatawan yang berkunjung ke Sumbawa.
Material Kayu sebagai Kunci Ketahanan Gempa
Keistimewaan utama Istana Dalam Loka terletak pada penggunaan material kayu sebagai struktur utama bangunan. Rumah-rumah kayu tradisional di Nusantara dikenal memiliki sifat lentur. Saat terjadi guncangan gempa, struktur kayu tidak bersifat kaku, melainkan mampu bergerak mengikuti getaran tanah.
Sifat lentur inilah yang membuat bangunan tidak mudah roboh ketika gempa terjadi.
Hal tersebut sangat relevan dengan kondisi wilayah Indonesia Timur yang cukup sering mengalami gempa, baik dalam skala kecil maupun besar.
Fakta bahwa istana ini masih berdiri hingga sekarang menunjukkan efektivitas konsep tersebut.
Makna dan Fungsi 99 Tiang Penyangga
Istana Dalam Loka ditopang oleh 99 tiang kayu, yang melambangkan 99 Asmaul Husna. Jumlah tiang ini mencerminkan kuatnya pengaruh Islam dalam arsitektur istana.
Namun, fungsi tiang tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga struktural.
Menariknya, tidak semua tiang dipasang dalam posisi tegak lurus. Beberapa tiang dibuat dengan kemiringan yang teratur.
Susunan ini berfungsi untuk menopang konstruksi bangunan agar lebih kuat dan stabil, termasuk saat menerima guncangan akibat gempa bumi.
Warisan Arsitektur Nusantara yang Masih Bertahan
Meski telah berusia lebih dari satu abad, Istana Dalam Loka tidak menunjukkan kerusakan berarti akibat gempa.
Beberapa bagian kayu memang telah diganti untuk perawatan, tetapi struktur bangunan tetap mempertahankan bentuk aslinya.
Dari Istana Dalam Loka, kamu bisa melihat bahwa arsitektur tradisional Nusantara bukan hanya soal keindahan, tetapi juga solusi nyata dalam menghadapi kondisi alam.
Bangunan ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal memiliki peran penting dalam menciptakan rumah tahan gempa yang fungsional dan berkelanjutan.
Baca juga: Macam-Macam Rumah Adat Sasak Lombok yang Masih Dilestarikan Hingga Kini
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Abbasource Studio