Senin, 12 JANUARI 2026 • 20:50 WIB

Desa Sade Lombok, Menyusuri Kearifan Lokal Suku Sasak yang Masih Terjaga

Author

Desa Sade (Youtube/Heybeb Official)

NTBKalau kamu sedang liburan ke Lombok Tengah, Desa Adat Sade wajib masuk daftar kunjungan.

Desa ini bukan sekadar tempat wisata, tapi ruang hidup yang masih menjaga kearifan lokal Suku Sasak secara turun-temurun hingga belasan generasi.

Berada di Desa Rambitan, Desa Sade menjadi bukti nyata bahwa budaya bisa bertahan di tengah arus modernisasi.

Baca juga: Wisata Edukasi Bernuansa Alam di Narmada Botanic Garden Lombok Barat

Desa Adat yang Bertahan dari Generasi ke Generasi

Desa Sade dikenal sebagai satu-satunya kampung adat di Lombok yang masih mempertahankan bentuk rumah dan tata kehidupan tradisionalnya.

Luasnya sekitar dua hektare dengan lebih dari 150 rumah adat, dan setiap rumah hanya boleh ditempati satu kepala keluarga.

Aturan ini menjaga keseimbangan sosial sekaligus memperkuat ikatan keluarga dalam satu garis keturunan.

Uniknya, sistem pewarisan rumah di Desa Sade hanya berlaku untuk anak laki-laki. Anak perempuan akan mengikuti suami setelah menikah.

Karena itu, pernikahan antarsesama warga desa masih sering dilakukan agar adat dan silsilah keluarga tetap terjaga.

Tradisi Pernikahan Merari yang Unik

Salah satu budaya paling menarik di Desa Sade adalah tradisi merari, yaitu adat pernikahan tanpa proses lamaran.

Jika sepasang muda-mudi sudah saling suka, pihak laki-laki akan “membawa” calon istrinya secara diam-diam. Meski terdengar ekstrem, proses ini memiliki aturan adat yang ketat dan tetap diselesaikan secara kekeluargaan serta agama Islam.

Setelah merari, keluarga laki-laki wajib datang menemui keluarga perempuan untuk memastikan semuanya berjalan sesuai adat. Tradisi ini masih dijalankan hingga sekarang dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Rumah Adat dengan Filosofi Mendalam

Saat kamu masuk ke rumah adat Desa Sade, kamu akan langsung menunduk karena pintunya dibuat rendah. Ini bukan tanpa alasan, tapi sebagai simbol saling menghormati.

Lantainya pun masih asli, terbuat dari tanah liat yang dipel menggunakan campuran kotoran kerbau. Selain ramah lingkungan, cara ini dipercaya mampu menguatkan lantai dan menyerap debu.

Di dalam rumah, tidak ada jendela. Tujuannya untuk menjaga anak gadis agar selalu berada dalam pengawasan orang tua.

Area dalam rumah juga digunakan untuk memasak, kamar gadis, hingga proses melahirkan yang masih dibantu dukun beranak.

Terbuka pada Zaman, Teguh pada Budaya

Meski kehidupan modern sudah masuk, warga Desa Sade tetap memegang adat sebagai pedoman utama.

Menikah dengan orang luar diperbolehkan, asalkan adat Sasak tetap dijalankan dan dihormati. Inilah yang membuat Desa Sade tetap hidup, bukan sekadar menjadi museum budaya.

Berkunjung ke Desa Sade bukan cuma soal jalan-jalan, tapi pengalaman memahami nilai hidup masyarakat Sasak yang sederhana, kuat, dan penuh makna.

Baca juga: Wisata Edukasi di Lombok Wildlife Park, Liburan Seru Sambil Belajar Satwa

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube/Heybeb Official

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU