Rempah Nusantara (Youtube/Kuliner Lokal)
NTB - Sejak dulu, Nusantara dikenal sebagai negeri yang kaya akan rempah-rempah.
Cengkih, pala, lada, jahe, hingga kunyit bukan hanya bumbu dapur, tapi juga komoditas bernilai tinggi yang diperebutkan bangsa-bangsa dunia.
Kekayaan inilah yang membuat wilayah Nusantara menjadi pusat perdagangan internasional jauh sebelum masa kolonial.
Pada masa kerajaan, rempah menjadi penopang ekonomi, alat diplomasi, hingga identitas budaya. Dua kerajaan besar yang punya peran penting dalam sejarah rempah adalah Singhasari dan Mataram.
Baca juga: Pesona Alam, Budaya, dan Suku NTB yang Bikin Dunia Jatuh Cinta
Kerajaan Singhasari yang berdiri pada abad ke-13 di Jawa Timur dikenal sebagai kerajaan maritim yang kuat.
Lokasinya strategis dan dekat dengan jalur perdagangan membuat Singhasari aktif dalam distribusi hasil bumi, termasuk rempah-rempah.
Rempah dari wilayah timur Nusantara didistribusikan melalui pelabuhan-pelabuhan di Jawa, lalu diperdagangkan ke berbagai wilayah Asia.
Dari sinilah rempah Nusantara mulai dikenal luas dan menjadi komoditas utama yang bernilai tinggi di pasar global.
Berbeda dengan Singhasari yang kuat di sektor maritim, Kerajaan Mataram dikenal sebagai kerajaan agraris.
Meski begitu, peran Mataram dalam sejarah rempah tidak bisa dianggap remeh. Rempah digunakan secara luas dalam kehidupan masyarakat, mulai dari kuliner, pengobatan tradisional, hingga ritual adat.
Jahe, lengkuas, dan kunyit menjadi bahan utama jamu yang hingga kini masih digunakan.
Tradisi ini menunjukkan bahwa rempah bukan hanya soal perdagangan, tapi juga bagian penting dari gaya hidup dan kearifan lokal.
Pengaruh rempah dari masa Singhasari dan Mataram masih terasa kuat dalam kuliner Indonesia modern.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Kuliner Lokal