Selasa, 07 JULI 2026 • 10:21 WIB

Mengenal Istana Bala Kuning Pusat Kebangkitan Adat Tau ke Tana Samawa di Sumbawa

Author

Istana Bala Kuning (Portal Lembaga Adat Tanah Samawa)

NTB - Berdiri Anggun di Sumbawa Besar, Istana Bala Kuning bukan hanya sekedar bangunan tua yang mengisi sudut kota. Bangunan ini merupakan simbol hidup dari identitas budaya masyarakat Tau ke Tana Samawa. Setelah turun tahta, bangunan bersejarah ini menjadi rumah pribadi bagi Sultan Muhammad Kaharuddin III. Tidak terkesan seperti bangunan mati yang ditinggalkan, istana ini memancarkan atmosfer living history karena masih difungsikan secara aktif sebagai tempat tinggal sekaligus pusat urusan adat bagi keluarga dan keturunan Kesultanan Sumbawa.

Menapakkan kaki di area istana ini akan membawa siapa saja melintasi lorong waktu, merasakan langsung sisa kemegahan sebuah peradaban yang kuat di masa lampau. Dari segi visual, Istana Bala Kuning menampilkan karakteristik arsitektur yang sangat unik dan memikat mata. Dengan mengadopsi ciri khas gaya arsitektur kolonial yang dipadukan secara genius dengan kondisi dalam tropis sehingga menciptakan tata ruang yang sejuk di tengah cuaca Sumbawa.

Sesuai dengan namanya, seluruh bangunan ini didominasi dengan warna kuning yang mencolok. Pemilihan warna ini bukanlah tanpa alasan, karena dalam tatanan sosial masyarakat Sumbawa di masa lampau warna kuning memiliki nilai filosofis yang menyimbolkan secara khusus menandai rumah tinggal bagi kaum Bangsawan.

Baca juga: Arsitektur Rumah Tahan Gempa dari Istana Dalam Loka, Sumbawa


Dibalik dinding kuning yang ikonik, istana ini mengemban peran krusial sebagai tempat penyimpanan benda pusaka milik Kesultanan Sumbawa. Dalam ruangan yang terjaga, tersimpan dengan rapi berbagai artefak berharga seperti Parewa Kamutar, Parewa Tokal Adat Ode, pakaian adat, serta keberadaan beberapa pusaka lainnya. Hebatnya, seluruh lambang kebesaran Kesultanan Sumbawa ini masih terawat dengan sangat baik. Keberadaan benda pusaka ini menegaskan bahwa Istana Bala Kuning bukan sekedar tempat bernaung, melainkan sebuah tempat sakral yang menjaga memori kolektif dan legitimasi kultural kesultanan dari kepunahan. 

Nilai historis Istana Balai Kuning semakin mengkristal Ketika memasuki era modern. Pada tahun 2011, istana ini bertransformasi menjadi pusat kebangkitan adat Tau ke Tana Samawa saat menyelenggarakan peristiwa sakral bertaraf historis, yaitu prosesi penobatan Sultan Sumbawa XVIII, Dewa Masmawa Sultan Muhammad Kaharuddin IV. Peristiwa tersebut menjadi tonggak lahir Kembali kesadaran budaya lokal di tengah gempuran zaman. 

Atas nilai pentingnya yang tak tergantikan bagi peradaban, bangunan ini akhirnya secara resmi masuk ke dalam daftar bangunan cagar budaya yang dilindungi melalui Surat Keputusan Bupati Sumbawa Nomor 1316 Tahun 2022. Dengan status ini, Istana Bala Kuning dipastikan akan terus berdiri kokoh memancarkan pesona sejarahnya bagi generasi masa depan. 

Baca juga: Daya Tarik Wastra NTB di Istana Dalam Loka: Museum Negeri NTB Mengadakan Pameran Keliling yang Penuh Arti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Lomboksumbawatourism.ntbprov.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU