NTB - Masjid Kamina dikenal sebagai masjid tertua di Bima yang memiliki nilai sejarah sangat penting bagi perkembangan Islam di wilayah ini.
Keberadaan masjid ini bukan hanya menjadi simbol ibadah, tetapi juga menjadi saksi awal masuk dan berkembangnya ajaran Islam di tanah Bima.
Hingga kini, Masjid Kamina masih berdiri dan menjadi bagian penting dari warisan budaya serta religi masyarakat Bima.
Baca juga: 6 Masjid Terbesar di Pulau Lombok yang Ikonik dan Bersejarah
Sejarah Masuknya Islam di Bima
Islam mulai mengakar kuat di Bima pada awal abad ke-17. Kesultanan Bima secara resmi menjadikan Islam sebagai dasar pemerintahan pada 5 Juli 1640.
Sejak saat itu, ajaran Islam menyatu dengan adat dan kehidupan masyarakat Bima. Namun, proses masuknya Islam telah dimulai jauh sebelum tanggal tersebut melalui dakwah para ulama dari Sulawesi Selatan yang datang membawa ajaran Islam ke wilayah Bima.
Masjid Kamina memiliki peran besar dalam fase awal penyebaran Islam tersebut.
Berdasarkan catatan sejarah, masjid ini didirikan sekitar tahun 1621 Masehi oleh La Kai, seorang bangsawan Bima yang kemudian memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abdul Kahir.
Ia bersama para mubaligh menjadikan masjid ini sebagai pusat ibadah dan penyiaran Islam.
Lokasi dan Asal Usul Nama Kamina
Masjid Kamina terletak di Desa Kalodu, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima. Lokasinya berada di dataran tinggi dengan suasana yang sejuk dan dikelilingi alam pegunungan.
Nama Kamina berasal dari istilah “Ka Aminah” yang bermakna orang-orang yang pertama mengaminkan atau menerima Islam.
Hal ini menunjukkan bahwa wilayah Kalodu menjadi tempat awal masyarakat Bima mengenal dan menerima ajaran Islam.
Karena letaknya yang cukup terpencil, masjid ini dahulu juga berfungsi sebagai tempat perlindungan dan pusat kegiatan dakwah yang aman dari konflik politik kerajaan pada masa itu.
Keunikan Arsitektur Masjid Kamina
Secara historis, Masjid Kamina memiliki bentuk yang unik. Bangunan awalnya berbentuk bujur sangkar dan tidak memiliki mihrab seperti masjid pada umumnya.
Setiap sisi bangunan memiliki makna simbolis yang menggambarkan tokoh-tokoh penting keluarga kerajaan serta daerah asal para ulama penyebar Islam, seperti Gowa, Tallo, Luwu, dan Bone.
Saat ini, bangunan masjid sudah mengalami renovasi, terutama pada bagian tiang dan struktur utama. Meski demikian, nilai sejarah dan makna simbolisnya tetap dijaga oleh masyarakat setempat.
Masjid Kamina sebagai Wisata Sejarah dan Ziarah
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Kamina juga berpotensi menjadi destinasi wisata religi dan sejarah di Bima.
Pemandangan alam sekitar yang indah serta nilai historis yang kuat menjadikan masjid ini layak untuk dikunjungi.
Dengan menjaga dan mengenal sejarah Masjid Kamina, kamu ikut berperan dalam melestarikan jejak awal Islam di tanah Bima.
Baca juga: Camping Keluarga di Joben Evergreen Lombok, Wisata Alam Sejuk di Kaki Gunung Rinjani
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/INFO NUSA