Burung Celepuk Rinjani. (e-bird)
NTB - Lombok memang juara kalau bicara soal destinasi wisata. Mayoritas pelancong pasti langsung teringat kemegahan Gunung Rinjani atau deretan pantainya yang eksotis. Menariknya, kawasan Rinjani bukan sekadar tempat mendaki, melainkan rumah bagi berbagai satwa unik yang beberapa di antaranya tidak bisa ditemukan di belahan dunia lain. Bahkan, salah satu dari hewan ini saking ikoniknya sampai dipasang sebagai logo resmi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Biar agenda liburanmu ke Lombok nanti makin berkesan, yuk kenalan dulu dengan 7 hewan khas berikut ini!
Masyarakat setempat sering menyebutnya burung Koak Kao karena bunyi suaranya yang nyaring dan khas. Burung ini sebenarnya bisa ditemukan di Australia, namun di Indonesia sendiri, Lombok menjadi salah satu rumah utamanya. Mereka paling suka tinggal di area dataran rendah dan hutan bakau. Karena keindahan dan keunikannya, Koakiau sering menjadi incaran pemburu liar untuk diperjualbelikan, membuat statusnya kini masuk dalam daftar satwa yang dilindungi.
Inilah hewan legendaris yang wajahnya terpampang jelas pada logo Provinsi NTB. Sering disebut menjangan oleh warga lokal, satwa berbulu cokelat ini konon termasuk salah satu mamalia tertua di bumi yang masih bertahan. Membedakan jenis kelaminnya cukup mudah; kijang jantan dibekali tanduk pendek di kepalanya, sementara betinanya tidak. Kijang cenderung lebih aktif bergerak dan mencari makan pada malam hari (nokturnal).
Baca juga: 3 Tempat Main Skateboard Terbaik di Nusa Tenggara Barat, Lengkap dengan Alamatnya!
Kalau mengira semua burung hantu itu sama, kamu wajib tahu burung yang satu ini. Lombok punya burung hantu endemik berukuran mini bernama Celepuk Rinjani. Sesuai namanya, mereka menjadikan area sekitar kaki Gunung Rinjani sebagai habitat utamanya.
Selain badannya yang mungil, keunikan celepuk ini terletak pada suaranya yang sekilas mirip dengan kokokan ayam. Uniknya, warga lokal enggan memburu atau memperdagangkan burung ini karena adanya mitos lama bahwa kehadirannya membawa pertanda kurang baik. Sayangnya, populasi mereka tetap menyusut akibat berkurangnya area hutan.
Burung pemangsa berdarah dingin ini penampilannya sangat gagah dengan bentang sayap yang bisa mencapai 1,6 meter. Kepalanya dominan berwarna putih bersih, kontras dengan tubuhnya yang berwarna cokelat gelap. Saat ini, populasinya di alam liar diperkirakan sudah sangat kritis dan tersisa sedikit akibat maraknya perburuan liar serta rusaknya habitat.
Masih dari rimbunnya hutan Rinjani, ada mamalia lincah bernama Musang Rinjani, atau yang akrab disapa Ujat oleh masyarakat setempat. Secara fisik, tampilannya sekilas mirip dengan luwak biasa dengan bulu gelap cenderung hitam. Bedanya, jika diperhatikan di bawah cahaya, bagian punggung dan perutnya punya semburat warna hitam kehijauan mirip lumut. Sayangnya, nasib Ujat agak kurang beruntung karena sering dicap sebagai hama oleh para peternak.
Baca juga: Sejarah Penyebaran Islam di Sumbawa dan Berdirinya Kesultanan Samawa
Sesuai namanya, burung berparuh runcing ini bertahan hidup dengan cara berpindah dari satu bunga ke bunga lain untuk mengisap nektar. Di alam liar Lombok, burung berbulu hijau cantik ini biasanya kerap terlihat melesat di kawasan perbukitan dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut. Hebatnya, mereka punya daya tahan tinggi karena masih sering dijumpai bertengger di area semak belukar.
Meskipun menyandang nama "Timor", kawanan rusa ini sudah lama menetap dan berkembang biak di daratan Lombok. Ciri utamanya bisa dilihat dari postur tubuhnya yang ringkas, bulu cokelat kekuningan yang agak kasar, serta tanduk bercabang tajam pada pejantan untuk melindungi diri. Rusa Timor termasuk hewan sosial yang selalu bergerak dalam kelompok besar saat mencari makan di pagi atau sore hari.
Melihat langsung satwa-satwa ini di habitat aslinya tentu bakal jadi bumbu cerita perjalanan yang seru. Tertarik untuk menjelajahi sisi liar Lombok?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Traveloka