Dalam rangkaian event tahunan Gili Festival 2025 yang berlokasi di Gili Air, Lombok Utara diselenggarakan kegiatan Peresean.
Peresean adalah bela diri tradisional khas suku Sasak. Dimana dua orang petarung yang disebut Pepadu saling beradu menggunakan penjalin sebagai alat pukul yang terbuat dari rotan sepanjang satu meter, dan perisai kayu (tameng) dari kulit kerbau berbentuk bujur sangkar berukuran 50 x 50 centimeter. Kedua petarung juga menggunakan ikat kepala yang disebut Saput, serta kain pengikat pinggang (bebadong).
Petarungan yang dipimpin oleh dua pakembar (wasit) itu diiringi oleh musik gamelan Sasak. Tembang beraura mistis menemani pertarungan untuk mendongkrak semangat bertarung dan mengurangi rasa sakit apabila terkena pukulan rotan.
Tradisi Peresean sudah dimainkan oleh suku Sasak sejak abad ke-13, berawal dari ritual Masyarakat adat yang ingin mendatangkan hujan pada musim kemarau. Sebagai bentuk kesenian beladiri, Peresean sudah ada sejak zaman kerajaan di Lombok. Pada awalnya, Peresean menjadi semacam latihan pedang dan perisai sebelum berangkat ke medan perang.
Pertarungan Peresean juga disakralkan oleh masyarakat Adat, sehingga tidak bisa digelar sembarangan waktu. Kini, Peresean diadakan menjelang perayaan-perayaan khusus, seperti Hari Kemerdekaan, hari ulang tahun daerah, menjelang Ramadhan, atau pun event besar yang diselenggarakan oleh daerah seperti Gili Festival 2025 ini.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Dok.remaja Gili Air