Sabtu, 11 JULI 2026 • 10:23 WIB

Menilik Sejarah Tari Lenggo sebagai Warisan Klasik Istana Bima

Author

Tari Lenggo NTB" data-author="kim.bimakota.go.id" data-credit="null" data-source="null">Tari Lenggo NTB (kim.bimakota.go.id)

NTB - Bagi masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat, nama Tari Lenggo sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya mereka. Begitu melekatnya tarian ini, hingga para tetua adat kerap mengajak anak-anak mereka menari dengan ungkapan turun-temurun, "Lenggo wa'u ja pu anae" yang berarti "Menarilah, anakku."

Namun, di balik keindahan gerakannya, Tari Lenggo menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan awal mula masuknya Islam di tanah Mbojo.

Menurut Kepala Museum Asi Mbojo, Ruslan, S.Sos (yang akrab disapa Alan Malingi), eksistensi Tari Lenggo bertumpu pada tradisi Hanta Ua Pua sebuah perayaan besar penanda islamisasi Bima pada abad ke-17.

Baca juga: Tari Tradisional Suku Sasak Sambut Wisatawan, Pesona Budaya Lombok yang Memikat


Kisah tarian ini terbagi menjadi dua:

Lenggo Melayu (Tari Laki-laki): Lahir pada masa pemerintahan Sultan Bima ke-2, Sultan Abdul Khair Sirajuddin (1640–1682). Kala itu, para ulama dan warga keturunan Melayu menggelar perayaan Hanta Ua Pua di Sori Kempa (sekarang Kelurahan Ule) dengan mempersembahkan zikir serta sebuah tarian yang dibawakan oleh penari laki-laki, yang kemudian dikenal sebagai Tari Lenggo Melayu.

Lenggo Siwe/Mbojo (Tari Perempuan): Tergerak oleh jiwa seninya, Abdul Khair Sirajuddin (yang bergelar Iambela) menyambut baik kehadiran para ulama yang membawa kitab suci Al-Qur'an tersebut ke istana. Sebagai bentuk penghormatan, Sultan menciptakan tarian tandingan yang dibawakan oleh penari perempuan, disebut Lenggo Siwe atau Lenggo Mbojo.

Ketika rombongan ulama Melayu yang menaiki Uma Lige tiba di pelataran istana, mereka disambut hangat oleh gerakan gemulai para penari Lenggo Siwe. Perpaduan harmonis antara Lenggo Melayu dan Lenggo Mbojo inilah yang mengkristal menjadi Tari Lenggo Ua Pua.

Baca juga: Tari Dedare Nyesek, Warisan Langka dari Lombok

Hebatnya, setelah lebih dari 400 tahun berlalu sejak pertama kali diciptakan sebagai media syiar Islam, Tari Lenggo tidak memudar ditelan zaman. Tarian klasik istana ini tetap hidup dan menjadi bagian penting dalam berbagai upacara sakral Kesultanan Bima, seperti Perayaan Hanta Ua Pua, Upacara penobatan Sultan maupun Putera Mahkota, Ajang kebudayaan nasional seperti Festival Keraton Nusantara.

Upaya pelestarian Tari Lenggo kini terus digalakkan secara regeneratif. Melalui Museum Asi Mbojo, pihak pengelola mengadakan program Soba Asi (Sahabat Museum Asi Mbojo) yang salah satu agenda utamanya adalah kursus tari klasik istana.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Kim.bimakota.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU