Sabtu, 11 JULI 2026 • 06:48 WIB

Evolusi Keselamatan dan Atribut pada Budaya Maen Jaran Khas NTB

Author

Budaya Maen Jaran (lomboksumbawatourism.ntbprov.go.id)

NTB - Budaya Maen Jaran atau pacuan kuda tradisional memiliki akar sejarah yang panjang di Indonesia, khususnya di wilayah Nusa Tenggara Barat seperti Sumbawa. Tradisi ini awalnya berkembang pada zaman kolonial Belanda. Pada masa tersebut, pacuan kuda diselenggarakan sebagai ajang ketangkasan sekaligus hiburan bagi para penduduk setempat.

Namun, terdapat perbedaan mendasar antara pelaksanaan Maen Jaran tempo dulu dengan era modern. Pada zaman kolonial, perlombaan ini berlangsung tanpa adanya peraturan yang baku dan mengikat. Fokus utama hanyalah kecepatan dan keberanian, tanpa memikirkan standardisasi arena maupun perlindungan bagi pelaku pacuan.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini mengalami perubahan yang signifikan. Saat ini, Maen Jaran berkembang pesat dengan sangat mempertimbangkan aspek keselamatan. Modifikasi regulasi terus dilakukan untuk melindungi joki dan kuda yang bertanding. Transformasi ini mengubah citra Maen Jaran dari sekadar tontonan rakyat yang berisiko tinggi menjadi olahraga tradisional yang lebih profesional, terstruktur, dan humanis, tanpa menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya.

Baca juga: Tari Rebo Bontong, Warisan Budaya NTB yang Sarat Makna Tradisi


Dalam tradisi Main Jaran, kuda bukan sekadar hewan pacuan, melainkan simbol martabat dan kebanggaan pemiliknya. Oleh karena itu, kuda dihias dengan berbagai atribut tradisional yang memiliki fungsi estetis sekaligus teknis untuk mengendalikan laju hewan perkasa ini di lintasan. 

Atribut Kuda

1. Jombe: Hiasan yang terbuat dari rajutan benang wol dengan ditempeli berbagai pernak-pernik. Atribut ini dipasang di muka dan leher kuda.

2. Tali Kancing: Tali khusus yang dipasang di dalam mulut kuda. Atribut ini berfungsi sebagai sarana komunikasi utama antara joki dan kuda, memastikan arah dan kecepatan kuda dapat dikendalikan dengan akurat.

3. Kili : Alat penyambung yang berbentuk angka 8 (delapan), berfungsi untuk menghubungkan tali pengendali (kendali tangan joki) dengan rantai yang terpasang di mulut kuda. 

4. Lapek: Alas duduk joki yang dipasang di punggung kuda. 

Baca juga: Tari Tradisional Suku Sasak Sambut Wisatawan, Pesona Budaya Lombok yang Memikat

Atribut Joki

Jika pada zaman kolonial joki berkuda dengan pakaian seadanya, modernisasi Main Jaran kini mewajibkan penggunaan atribut lengkap bagi joki. Atribut joki digunakan untuk menyelaraskan ketangkasan fisik dengan proteksi maksimal. 

1. Helm: Pelindung kepala utama untuk mengantisipasi benturan fatal jika joki terjatuh dari kuda atau terjadi insiden di lintasan pacu.

2. Baju Panjang: Pakaian lengan panjang untuk melindungi kulit joki dari gesekan angin, sengatan matahari, serta luka gores akibat debu atau kerikil lintasan.

3. Ketopong: Sarung atau penutup kepala yang dikenakan sebelum helm.

4. Baju Rompi: Pelindung tubuh tambahan (sering kali dimodifikasi sebagai body protector ringan) untuk melindungi dada dan organ vital joki dari benturan fisik.

5. Cambuk: Alat bantu yang biasanya terbuat dari kayu rotan.

Pada akhirnya, atribut yang melekat pada kuda dan joki dalam tradisi Main Jaran bukan sekadar kelengkapan estetika visual di atas lintasan. Transformasi dari era kolonial tanpa regulasi menuju era modern yang mengutamakan keselamatan membuktikan bahwa tradisi ini adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa kehilangan ruh aslinya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Lomboksumbawatourism.ntbprov.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU